Tentang Meratus

Cerita Singkat Geopark Meratus

Terletak di Provinsi Kalimantan Selatan, Geopark Pegunungan Meratus menjadi salah satu ikon pariwisata dan kebanggaan masyarakat Banjarmasin pada khususnya. 

Geopark (Taman Bumi) merupakan wilayah geografis tunggal yang menyatu, dimana situs geologi dan bentangalamnya dikelola secara holistik. Dimana komponen pengembangan Kawasan Geopark meliputi Pengembangan Masyarakat, Pembangunan Ekonomi dan Konservasi.

Pemandangan

Lanskap Pegunungan Meratus membentang ke arah Timur Laut-Barat Daya, yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan.

Keanekaragaman hayati

Pegunungan Meratus menyimpan banyak cerita dalam hal geodiversitas, keanekaragaman budaya dan keanekaragaman hayati, yang sangat lengkap dan beragam.

milestones

Sejarah Geopark Meratus

Pegunungan Meratus tersusun oleh Kelompok Batuan Ultramafik, malihan, melange danterobosan (seri Ofiolit) yang diperkirakan berumur Yura (150–200) juta tahun yang lalu sampai Kapur Awal/Bawah (100-150) juta tahun yang lalu.

Februari2019

Pemetaan Detail

14Februari2017

Riset & Pengembangan

01Mei2015

Penemuan Pertama

Geologi Regional Kalimantan Selatan

Pola struktur yang berkembang di Pulau Kalimantan berarah Meratus (Timurlaut-Baratdaya). Pola ini tidak hanya terjadi pada struktur-struktur sesar tetapi juga pada arah sumbu lipatan. Perbukitan Tutupan yang berarah Timurlaut-Baratdaya dengan panjang sekitar 20 km terbentuk akibat pergerakan 2 (dua) patahan anjakan yang searah. Salah satunya dikenal dengan nama Dahai Thrust Fault yang memanjang pada kaki bagian Barat perbukitan Tutupan. Fisografi secara umum Pulau Kalimantan menurut Van Bemmelen (1949), dibagi menjadi beberapa zone fisiografis, yaitu :

  • Blok Schwaner yang dianggap sebagai bagian dari dataran Sunda.
  • Blok Paternoster, meliputi pelataran Paternoster sekarang yang terletak dilepas Pantai Kalimantan Tenggara dan sebagian didataran Kalimantan yang dikenal sebagai Sub Cekungan Pasir.
  • Meratus Graben, terletak diantara Blok Schwanerdan Paternoster, daerah ini sebagai bagian dari Cekungan Kutai.
  • Tinggian Kuching, merupakan sumber untuk pengendapan ke arah Barat laut dan Tenggara cekungan Kalimantan selama Neogen.

Kondisi Geologi Kalimantan Selatan secara umum dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu :

  • Tinggian Meratus, menempati bagian Tengah Kalimantan Selatan dan memanjang dari Utara ke Selatan.
  • Cekungan Barito, menempati bagian Barat, memanjang dari Utara ke Selatan hingga Timurlaut ke Baratdaya.
  • Cekungan Asam Asam/Pasir, menempati bagian Timur dan Selatan memanjang dari Utara ke Selatan hingga Timurlaut ke Baratdaya.

Geologi Lokal Area Geopark

Pegunungan Meratus merupakan suture mesotethys hasil benturan antara mikrokontinet Schwaner dan Paternoster pada Early Cretaceous yang emplacement nya dengan cara obduction of detached oceanic slab yang lalu naik kepermukaan karena ekshumasi Paternoster dibawahnya (Satyana, 2003 -HAGI & IAGI; Satyana & Armandita, 2008-HAGI, Satyana, 2010-IPA; Satyana, 2012-AAPG). Ekshumasi adalah terangkatnya kembali suatu massa yang pernah tenggelam. Geopark Pegunungan Meratus memiliki aktivitas tektonik yang cukup kompleks, hal ini didasarkan atas 2 (dua) sutur tektonik yang dikaji melalui evolusi metamorfik oleh Soesilo dkk (2015) dan dibatasi oleh Mikrokontinen Paternoster.

  • Sutur Pertama adalah sisa dari Akresi Jura yang terletak dibagian Barat mikrokontinen yang tergambarkan dalam Sutur Meratus. Kemenerusan metamorphic belt memanjang dari Laut Jawa yang menerus ke Utara sampai pada Tinggian Mangkalihat atau bagian Barat Sulawesi Tengah.
  • Sutur Kedua adalah Kompeks Akresi Kapur yang terletak di Timur mikrokontinen. Sutur tersebut memanjang dari Karangsambung di Jawa menuju Bantimala-Latimojong-Pompangeo Sulawesi bagian Barat

Pegunungan Kalimantan Selatan adalah sebuah pegunungan ofiolit yang sejak Paleogen telah terletak di sebuah wilayah yang jauh dari tepi-tepi konvergensi lempeng. Pegunungan Meratus mulai terangkat pada Miosen Akhir dan efektif membatasi Cekungan Barito disebelah Baratnya pada Plio-Pleistosen (Satyana). Berdasarkan hasil rekonstruksi yang telah dilakukan oleh Satyana (2003), pada tektonik wilayah bagian Tenggara Sundaland (Kalimantan Tenggara, Jawa Tengah-Jawa Timur, Sulawesi Selatan) dan menyatakan bahwa ofiolit Pegunungan Meratus tidak seharusnya dihubungkan dengan ofiolit Ciletuh dan Luk Ulo (Karangsambung) seperti telah digambarkan oleh Katili (1974) dan Hamilton (1979) yang menyebutnya sebagai jalur penunjaman Kapur Akhir. Proses pengalihtempatan (emplacement) ofiolit Meratus berbeda dengan proses emplacement ofiolit Ciletuh dan Luk Ulo. Ofioit yang ada di Ciletuh dan Luk Ulo (Krangsambung) seharusnya disambungkan dengan singkapan kompleks ofiolit di Bantimala, Sulawesi Selatan yang berdasarkan umur metamorfisme dan radiolaria terjadi pada sekitar Maastrichtian (Kapur akhir), sedangkan emplacement ofiolit Meratus terjadi pada Albian-Aptian (Kapur Awal bagian atas).

Batuan yang berada di Geopark Meratus merupakan batuan seri ofiolit yang tersingkap akibat obduksi dari Mikrokontinen Paternoster terhadap Sundaland pada Kapur Awal (137–110 jtl). Pada periode ini, kerak benua yang berada dibelakang (Tenggara) Mikrokontinen Paternoster, yaitu Blok Sulawesi Selatan mulai menunjam kebawah dari mikrokontinen tersebut dan mulai terjadi proses obduksi hingga kolisi pada jaman Kapur Akhir. Sehingga seri ofiolit yang berada di Meratus dan Karangsambung – Cileutuh, memiliki umur dan periode yang tidak sama. Karena Ofiolit Meratus merupakan produk subduksi–obduksi dan kolisi dari Mikrokontinen Paternoster terhadap Sundaland yang akhirnya membuat batuan seri ofiolit tersingkap keatas permukaan, sedangkan Karangsambung–Cileutuh merupakan produk subduksi–kolisi dari Blok Sulawesi Selatan (Bantimala) terhadap Mikrokontinen Paternoster.

Periode aktivitas tektonik didalam pembentukan Kalimantan Selatan, dalam hal ini pembentukan Pegunungan Meratus, keterdapatan batuan penyusun seri ofiolit meratus dan cekungan sedimen, terbagi menjadi 8 (delapan) proses periode geologi, antara lain :

  1. Periode 1 : Pra Tersier/Jura Awal (190-165) jtl
  2. Periode 2 : Jura Akhir-Kapur Awal (165-137) jtl
  3. Periode 3 : Kapur Awal (137-110) jtl
  4. Periode 4 : Kapur Akhir (100-71) jtl
  5. Periode 5 : Paleosen (71-56) jtl
  6. Periode 6 : Eosen-Miosen (56-23) jtl
  7. Periode 7 : Plio-Plistosen (5-1) jtl
  8. Periode 8 : Resen (1 jtl-sekarang)

 

Periode 1 : Pra Tersier/Jura Awal (190-165) jtl

Ilustrasi Periode 1 Pra Tersier/Jura Awal (190-165) jtl.

Pada periode ini Mikrokontinen Paternoster mulai bergerak kearah Tenggara dan mengalami proses subduksi terhadap Sundaland yang mengakibatkan terjadinya proses vulkanisme dan membentuk Pegunungan Schwaner akibat leburnya kerak samudera yang menunjam kebawah. Pada periode ini awal mula terbentuknya batuan alas (mantel) di Kalimantan Selatan yang berupa Batuan Malihan. Kehadiran batuan malihan ini seperti Sekis dan Gneiss tersingkap sangat baik di Geosite Matang Keladan dan Gunung Belanda.

Sampel dan Petrografi Gneiss di Gunung Belanda

Periode 2 : Jura Akhir-Kapur Awal (165-137) jtl.

Ilustrasi Periode 2, Jura Akhir-Kapur awal (165-137) jtl.

Pada periode ini seiring menunjamnya Kerak Benua Paternosfer terhadap Sundaland dan mendekatnya kedua kerak benua tersebut, terjadilah proses Pre-Lolisi terhadap Mikrokontinen Paternoster oleh Blok Sulawesi Selatan yang menyebabkan mulai berhentinya kegiatan vulkanisme Pegunungan Schwaner. Proses vulkanisme yang akhirnya membentuk Pegunungan Schwaner telah terhenti. Pada periode ini, batuan-batuan berupa sikuen ofiolit yang terjadi akibat proses kolisi dan malihan yang sudah terbentuk sebelumnya terangkat menjadi tinggian. Sikuen ofiolit yang terbentuk dapat ditemukan diberbagai macam lokasi dan merupakan seri ofiolit yang cukup lengkap.

Batuan Seri Ofiolit (Mantel) : Dunit, Peridotit dan Piroksenit

Batuan Seri Ofiolit : Gabro

Batuan Seri Ofiolit : Pillow Basalt

Batuan Seri Ofiolit : Chert

 

Periode 3 : Kapur Awal (137-110) jtl.

Ilustrasi Periode 3, Kapur Awal (137-110) jtl.

Pada periode ini semakin dekatnya Mikrokontinen Paternoster terhadap Sundaland, mengakibatkan terjadinya proses atau detached oceanic crust atau slab breakoff yang putus dari kerak samudera didepan Mikrokontinen Paternoster dan dilanjutkan dengan proses kolisi yang akhirnya membentuk Ofiolit Meratus. Seiring terbentuknya Ofiolit Meratus, kerak samudera yang berada didepan Blok Sulawesi Selatan terus menunjam Mikrokontinen Paternoster dan mengakibatkan terjadinya proses vulkanisme di Tinggian Meratus.

Dibuktikan dengan adanya penemuan batuan beku vulkanik dan plutonik (Intrusi Diorit) yang bersifat asam dan intermediet yang berupakan bagian dari kelompok Granit Batanglai/Belawayan. Beberapa lokasi yang terseingkap dengan baik seperti Air Terjun Kilat Api, Air Terjun Balawaian dan sumber air panas (Tanuhi dan Hantakan).

Sampel dan Petrografi Diorit di Air Terjun Kilat Api

Sampel dan Petrografi Granit Porfiri di Air Terjun Kilat Api

Pada periode ini, juga terdapat formasi yang menjadi penciri dari periode ini, yaitu Formasi Batununggal yang terbentuk akibat proses pengendapan sedimen pada daerah yang berenergi tenang, sehingga kaya akan unsur karbonat. Kehadiran Formasi Batununggal dapat ditemukan pada Bukit Langara dan Bukit Kantawan di Kec. Loksado Kab. Hulu Sungai Selatan.

 

Periode 4 : Kapur Akhir (100-71) jtl.

Ilustrasi Periode 4, Kapur Akhir (100-71) jtl.

Pada periode ini seiring bergeraknya kerak samudera yang berada didepan Blok Sulawesi Selatan terhadap Paternoster, terjadi proses vulkanisme yang lebih intens. Proses vulkanisme yang intens juga dibuktikan oleh adanya lava andesit dan breksi gunungapi yang ditengarai menjadi sumber dari air panas yang berada di kawasan Pegunungan Meratus. Pada periode ini juga dibuktikan oleh terbentuknya Formasi Haruyan dengan penciri berupa batuan produk kegiatan vulkanik dan Formasi Pitap dengan penciri berupa endapan sedimen flysch pada forearc basin. Formasi Haruyan ditemukan diberbagai macam lokasi dengan unit litologi yang berbeda-beda, seperti di Log Lagah, Air Terjun Barajang, Air Terjun Gantungan Iwak dan Air Terjun Haratai. Fenomena kehadiran sumber air panas juga ditemukan di Air Panas Lok Bahan dan Air Panas Batu Bini.

 

Periode 5 : Paleosen (71-56) jtl.

Pada periode ini, subduksi Blok Sulawesi Selatan terhadap Benua Paternoster terus berjalan dan hampir semua daerah merupakan daratan sehingga mengalami proses erosional dan gliptogenesa.

 

Periode 6 : Eosen-Miosen (56-23) jtl.

Ilustrasi Periode 6 : Eosen-Miosen (56-23) jtl.

Seiring menurunnya intensitas subduksi pada Mikrokontinen Paternoster sehingga mengalami extensional rift yang menyebabkan terbentuknya block faulting dan menjadi wadah untuk sedimentasi berbagai macam formasi. Pada periode ini terbentuklah Cekungan Barito dan Asam Asam. Dimana kedua cekungan ini diindikasikan sebagai satu kesatuan depocenter pada Eosen yang memiliki kecenderungan unit penciri litologi yang sama. Formasi batuan yang masuk didalam geosite didominasi oleh Formasi Tanjung yang berumur Eosen Tengah-Oligosen Awal (36.5-46) jtl, Formasi Berai yang berumur Oligosen-Miosen Awal (16-36.5) jtl dan Formasi Dahor yang berumur Miosen Akhir-Pliosen (1.8-11.2) jtl.

Formasi Tanjung dicirikan dengan kehadiran batuan konglomerat, batupasir, batubara pada bagian Tanjung Bawah dan Batugamping pada Tanjung Atas. Batugamping pada Tanjung Atas pada beberapa kawasan mempunyai bentangalam karst, dimana bukan hanya dilihat dari aspek eksokarst tetapi dilihat juga dari aspek endokasrt, seperti terdapat interior gua yang masih sangat alamiah dan masih terdapatnya aliran air bawah tanah. Model tersebut dapat dijumpai di geosite Gua Air Kukup, Gua Berangin dan Gua Pasulingan. Batubara pada Formasi Tanjung Bawah dijumpai secara ideal pada singkapan batuan di Desa Sugai Taib Kec. Pulau Laut Utara Kab. Kotabaru.

Gua Air Kukup (Atas) dan Gua Pasulingan (Bawah) Desa Nateh Penciri Formasi Tanjung Atas

Batubara Desa Sugai Taib Kec. Pulau Laut Utara Kab. Kotabaru Penciri Formasi Tanjung Bawah

Gua Baramban, Gua Liang Akar dan Gua Liang Udud (Berurutan dari Kiri ke Kanan) Formasi Berai 

Foto Udara Bentangalam Karst Kawasan Gua Baramban, Gua Liang Bangkai dan Gua Liang Udud

Periode 7 : Plio-Plistosen (5-1) jtl.

Ilustrasi Periode 7 : Plio-Plistosen (5-1) jtl.

Pada periode ini terjadi kegiatan struktur geologi yang cukup intens, ditandai dengan pensesaran naik dan geser yang diikuti sesar turun, sehingga membentuk suatu jalur/pathway bagi source rock untuk menginjeksi minyak bumi kepada batuan yang memiliki karakteristik reservoir yang baik, serta menjadi perangkap pada reservoir yang telah terbentuk. Pada periode ini juga diendapkan Formasi Dahor yang memiliki unit litologi penciri berupa batulempung sampai batulempung pasiran dan batupasir. Di lokasi Danau Biru terdapat litologi yang menjadi penciri dari formasi ini yaitu batupasir dan lempung.

 

Periode 8 : Resent (1 jtl-sekarang)

Pada periode ini hanya terjadi pengendapan material sedimen lepas, berupa Endapan alluvial yang berasal dari proses pelapukan formasi-formasi batuan penyusun Pegunungan Meratus. Endapan alluvial yang berada di Desa Ujung Murung, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Banjarbaru, mengandung intan primer yang diperkirakan berasal dari rangkaian produk ofiolit, produk hasil subduksi yang terjadi dan tersingkap dipermukaan melalui kimberlite atau lampropite pipe, atau hasil pengendapan aliran sungai purba ketika Komplek Schwaner dan Gondwana masih merupakan satu kesatuan pada Jura Akhir.